19.07.2018

Distorsi Hati

"Cicak,

Apa yang harusnya aku lakukan sekarang 
jika dia berkata bahwa dia berniat untuk pergi?

Haruskah aku menjadi lebih bodoh daripada seekor keledai 
dengan mempertahankan sesuatu yang dipaksakan?

Mengapa di awal harus berkata cinta
jika tidak mau menerima sisi kelemahan sebagai manusia?

Katanya, dia tak mau kehilangkan aku.

Komunikasi jarak jauh pun dianggapnya sebagai sesuatu yang "lebay"
Dipikirannya mungkin aku bukanlah sesuatu yang bernilai lagi

Betapa bahagianya dia ketika dia berkata dengan mudah 
bahwa komunikasi saat LDR adalah hal yang lebay

Mungkin intuisiku benar
Mungkin intuisiku salah
Siapakah namanya?

Salahkah aku untuk masih bersikeras menepati janji tidak meninggalkan satu sama lain 
ketika dia sudah berniat untuk enggan mewujudkannya? 

Siapakah namanya? 

Di depan semestanya, dia selalu mengatakan bahwa akulah yang buruk, di belakangku.
Pun mereka tidak lagi mempercayaiku dan bahkan mau memahami apa yang benar-benar terjadi padaku, karena ulahnya di belakangku. Penghasutkah?

Sesempurna apakah dia ketika berani mengatakan akulah yang buruk, 
entah di depanku entah di belakangku.
Jika aku boleh memesan 1 hal pada waktu, 
ingin aku sampaikan untuk bahwa aku memesan waktu pembelaan dan pembuktian bahwa aku bukanlah yang buruk di depan semestanya.
Benar-benar ingin hatiku menginginkannya menjadi sadar dan meminta maaf semenyesal mungkin atas segala hal yang diperbuatnya padaku, entah di depanku entah di belakangku.

Adil baginya untuk mengatakan hal yang buruk tentangku di depan semestanya, di belakangku.

Pecundangnya adalah dia seorang
ketika tidak mau mengatakan keburukannya pula di depan semestanya
Ya inilah yang aku tuai, cemooh. 
Cemoohan akibat dia tak mau menceritakan seutuhnya di depan semestanya.
Aku yang dicemooh.
Dia hanya tertawa dan merasa puas.

Waktu yang akan jawab
Tuhan yang akan membalas

Cicak, biarlah aku boleh tegar berdiri dan ikhlas menerima situasi
demi mewujudkan janji yang telah terucap."

katanya sambil menatap cicak di tembok.