13.06.2015

Ksatria Elang Putih




Aku ingin bebas
Terbang ke angkasa raya dengan pesawatku
Mengarungi ombak lautan biru terhampar dengan kapalku
Mungkin aku mabuk
Mungkin aku bodoh
Sampai tak sadarkan diri
Membuat pesawatpun aku selalu gagal
Membuat kapalpun aku selalu salah

Frustasi
Putus asa
Seolah tak ada ide lagi

Saat itu, Taksaka Malam di langit Indonesia
Aku duduk diam merenungi kesalahan-kesalahan yang lalu di kursi kereta gerbong 15
Tatapanku lama-kelamaan kosong ketika memandang luar jendela lautan hitam gemerlap malam itu

Otakku berhenti
Tak ada ide
Tak ada kesibukan
Tak ada pekerjaan
Hanya menatap kosong

Perjalanan selama berbulan-bulan tak menyadarkanku
Negeri dongeng sebagai destinasiku pun tak kunjung sampai

Iseng, kuambil secarik kertas yang tergeletak sendiri di atas meja kereta
Seolah-olah sudah beride tapi tak paham mau aku apakan kertas ini
Dibakar? Dibuang? Disobek? Diberi coretan? Atau kusimpan?
Putih tulus warnanya sampai aku tak pernah tega
Rasanya ingin meletakkan kembali dan mengabaikannya tergeletak diatas meja sendirian lagi

Tanpa arah dan tanpa ide
Kulipat-lipat kesana kesini
Melipat begitu saja
Tanpa arah dan tanpa ide
Terbentuklah suatu origami
Aku memberinya nama origami burung elang putih

Di kursiku itu aku coba terbangkan origami elang putihku dengan tanganku
Kuangkat tanganku dan aku memulai menuturkan dongeng
Tentang ksatria elang putih nan sakti yang menyelamatkan seorang Putri dari mimpi buruknya
Telinga penumpang yang lainpun ikut mendengar tentang kehebatan elang putih itu dalam suatu kisah dongengku sendiri
Dongeng kemustahilan

Origami itu kuarahkan kearah jendela malam
Disitulah latar hebat burung elangku

Datang sendiri tak berkawan dengan berani
Langit malam dia arungi
Tak ada bulan hanya samudra bintang yang seolah-olah memberinya kekuatan mematahkan mimpi buruk sang Putri
Putih tulus dan gemerlap
Tak bernoda dan gagah berani
Sang Elang Putih dari Negeri Dongengku

Tarian tanganku pun terhenti
Aku terhentak dan terbangun dari mimpi panjang oleh Masinisku
Bersyukur aku dibangunkan bahwa aku telah tiba di negeri ibukota Jakarta
Bukan tiba di negeri dongeng antah berantah penuh khayal
Apalagi melek dari mimpiku
Kstaria Elang Putih hanyalah kertas

Selamat tinggal Elangku
Aku sudah bangun dari mimpiku
Mungkin kita akan berjumpa lagi dalam sebuah dunia sungguhan
Dimana akulah sang Putri dan kau ada disitu bersama samudra bintang gemerlap